Minggu, 08 Februari 2009

Portugis Sumber Konflik Aceh-Johor Pada Abad 16 dan Abad 17

Oleh: Rusdi Sufi

Berdasarkan karya-karya penulis asing dan penulis Melayu tentang sejarah Aceh dan sejarah negeri-negeri di Semenanjung Tanah Melayu, dapat diketahui bahwa hubungan antara Kerajaan Aceh yang berlokasi di bagian paling utara Pulau Sumatra dengan Kerajaan Johor di bagian selatan Semenanjung Tanah Melayu telah terjalin semenjak abad ke XVI.1 Tetapi, hubungan ini ternyata bukanlah semata hubungan yang harmonis atau menyenangkan bagi kedua belah pihak. Karena seperti dipaparkan dalam hampir semua sumber-sumber sejarah itu, lebih banyak menginformasikan tentang konflik-konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi di antara kedua kerajaan.2 Dari sejumlah fakta yang terdapat dalam sumber-sumber itu dapat diinterpretasi penyebab atau punca mengapa sampai terjadinya konflik tersebut.
Pada umumnya semua peristiwa sejarah, termasuk peristiwa konflik yang terjadi antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Johor disebabkan oleh beberapa faktor. Namun di antara faktor-faktor penyebab itu, terdapat faktor yang paling dominan atau menonjol. Dalam kasus peritiswa konflik antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Johor diperkirakan penyebabnya antara lain; adanya perebutan kuasa dalam hegemoni perniagaan di kawasan Selat Melaka di antara beberapa Kerajaan Melayu3 di samping itu peningkatan maruah kekuasaan masing-masing kerajaan yang berbeda kepentingan juga menjadi salah satu penyebab. Sedangkan faktor yang paling dominan dalam hal ini karena kehadiran pihak barat (orang-orang Portugis) yang mempunyai kepentingan tersendiri. Untuk kepentingannya pihak Portugis melakukan bermacam cara, termasuk menciptakan pertikaian dan permusuhan serta membiarkannya terus terjadi di antara sesama Kerajaan Melayu yang penduduknya sama-sama penganut agama Islam.
Usaha Portugis “mengadu domba” dan memprovokasi sesama Kerajaan Melayu supaya mereka tidak bersatu dan tetap bertikai satu dengan yang lainnya, berhasil mereka lakukan. Karena ternyata kerajaan-kerajaan Melayu Islam yang merupakan musuh-musuh Portugis di kawasan Selat Melaka seperti Aceh dan Johor tidak pernah kompak dan sungguh-sungguh bersatu untuk sama-sama menghadapi Portugis yang telah merusak tatanan dalam sistem perdagangan di kawasan Selat Melaka. Malahan, akibat kehadiran dan campur tangan Portugis terhadap persoalan-persoalan intern dan ekstern yang dihadapi oleh kerajaan-kerajaan Melayu lebih memperparah pertikaian dan menjadikan mereka tetap bermusuhan satu dengan yang lainnya.4 Di sinilah letak kelihaian dan keunggulan pihak Portugis sehingga mereka dapat tetap eksis berkuasa di Bandar Melaka lebih dari satu abad (1511-1641). Semua tindakan Portugis dilakukan demi kepentingan misinya sesuai dengan tujuan dan maksud kedatangan mereka ke Nusantara.

II
Selat Melaka merupakan jalur perniagaan yang ramai yang banyak dilalui kapal dagang dari berbagai negeri di Asia. Negeri-negeri yang ada di sepanjang perairan Selat Melaka, silih berganti menempati kedudukan sebagai bandar/pelabuhan yang disinggahi oleh banyak kapal yang lewat di sana untuk mengambil perbekalan dan sekaligus dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berniaga dan kepentingan-kepentingan lainnya.5 Salah satu negeri yang terkenal di kawasan itu ialah Melaka. Sudah semenjak awal abad ke-15 Melaka dijadikan sebagai sentral perdagangan oleh para pedagang yang berasal dari berbagai negeri, baik dari barat (Timur Tengah dan India), maupun dari negeri Cina di Timur dan negeri-negeri di Asia Tenggara. Selain itu, Melaka juga dijadikan pusat penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh pedagang muslim yang berasal dari negeri-negeri Timur Tengah, India, dan negeri-negeri Asia Tenggara yang penduduknya telah memeluk agama Islam.6 Karena fungsi dan kedudukannya itu, maka negeri Melaka pada waktu itu dapat disebut sebagai pemimpin dalam kemaraan Islam di kawasan Selat Melaka. Hal ini dapat dicapai melalui perniagaan dan juga karena terdapat perkawinan-perkawinan di antara keluarga sesama penguasa kerajaan-kerajaan di wilayah itu. Situasi keharmonisan dan ketentraman hubungan perniagaan yang terdapat pada negeri-negeri di kawasan Selat Melaka, berlangsung sepanjang abad ke-15 M. Situasi yang demikian baru terusik ketika datangnya bangsa barat (Portugis) pertama kali ke wilayah itu.7
Orang-orang Portugis muncul pertama kali di Asia Tenggara pada awal abad ke-16 Masehi; tepatnya pada tahun 1509.8 Maksud dan tujuan kedatangan mereka yang utama adalah untuk memerangi orang-orang Islam yang dalam istilah mereka disebut dengan orang Moor, sebagai lanjutan dari Perang Salib (Perang antara orang Kristen dan orang Islam). Portugis semua orang Islam adalah orang Moor dan musuh mereka.9 Selain itu, Portugis juga bermaksud meng-hancurkan perdagangan saudagar-saudagar Islam dimanapun berada sehingga mereka dapat memegang kendali dalam perdagangan, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang terkenal memiliki berbagai komoditi yang sangat diperlukan di pasaran Eropah.10
Untuk maksud tersebut sejak awal kedatangannya Portugis berusaha menguasai jalur perdagangan Selat Melaka dan merebut kota Melaka yang sangat strategis dari orang-orang Islam. Pada tahun 1511 Portugis melancarkan suatu serangan hebat ke atas kota Melaka dan mereka berhasil menguasainya. Dengan didudukinya Melaka berakibat timbulnya kegoncangan dalam jaringan perdagangan di kawasan Selat Melaka, khususnya di kalangan pedagang-pedagang Islam. Lebih-lebih karena Portugis tidak senang berhubungan dagang dengan para pedagang Islam. Mereka lebih menyukai berdagang dengan pedagang-pedagang yang bukan beragama Islam.11 Akibatnya, para pedagang Islam terpaksa menyingkir dari Melaka. Mereka terpaksa mencari tempat-tempat lain yang dianggap cocok sebagai pangkalan dagangnya di kawasan Selat Melaka. Tempat-tempat yang dituju antara lain Johor di semenanjung Tanah Melayu dan Aceh di ujung bagian utara Pulau Sumatra. Kemudian dalam perkembangannya kedua tempat ini muncul dan berkembang menjadi bandar perdagangan baru bagi saudagar-saudagar Islam dan dijadikan tumpuan mereka sebagai pengganti Melaka yang telah dikuasai oleh Portugis.12
Setelah Melaka dikuasai Potugis keluarga Sultan Melaka hijrah ke negeri Johor dan melanjutkan kesinambungan Kesultanan Melaka di tempat yang baru ini. Oleh karena itu, negeri Johor dianggap sebagai pengganti Kesultanan Melaka,13 sehingga paling beralasan untuk memusuhi Portugis dan berupaya untuk mengusirnya kembali dari Melaka. Untuk itu, berulangkali Johor melancarkan serangan terhadap kedudukan Portugis di Melaka. Hal ini dilakukannya mulai tahun 1515, tahun 1516, 1519, 1524 dan dilanjutkan pada tahun 1533.14 Dan pada tahun 1551 angkatan perang Johor dengan dibantu oleh negeri Perak, Pahang, dan Jawa Jepara melancarkan suatu serangan secara besar-besaran untuk merampas kembali Melaka dari tangan Portugis.15 Namun semua penyerangan yang dilakukan mengalami kegagalan sehingga Portugis tetap bercokol di Melaka. Baru pada tahun 1641 ketika pihak lain, yaitu Belanda menyerang Melaka untuk merebutnya dari tangan Portugis di mana Johor ikut memberi bantuan kepada Belanda, berhasil mengalahkan Portugis. Sebaliknya, dalam upaya menghapus keturunan Sultan Melaka yang sudah pindah ke negeri Johor, pihak Portugis juga melancarkan serangan ke Johor. Penyerangan terhadap Johor juga berulangkali dilakukan Portugis, yaitu tahun 1524, tahun 1526, 1535, 1576 dan tahun 1587.16 Meskipun Portugis bermusuhan dengan Johor dan berulangkali terlibat peperangan, tetapi di antara keduanya (Portugis dan Johor) pernah berbaikan. Hal ini terjadi karena kelihaian Portugis mempengaruhi Johor ketika mereka menghadapi Aceh sebagai suatu kekuatan baru di kawasan Selat Melaka.
Muncul dan berkembangnya Kerajaan Aceh, berkaitan erat dengan penaklukkan Melaka oleh Portugis pada tahun 1511 Masehi. Setelah Melaka dikuasai Portugis, pedagang-pedagang Islam yang biasa berdagang di sana terpaksa menyingkir mencari tempat lain yang cocok untuk tempat berdagang. Di antara mereka ada yang datang ke Aceh. Dengan datangnya pedagang-pedagang Islam, Aceh menjadi ramai dan berkembang sebagai salah satu bandar tempat berdagang serta tempat penyiaran agama Islam untuk kawasan Nusantara pengganti Melaka. Selanjutnya, dengan potensi yang dimilikinya, Aceh semakin berkembang, menjadi kaya dan kuat. Karena kaya dan memiliki kekuatan sehingga timbul hasrat untuk memperluas kuasanya, baik ke Pantai Timur dan Pantai Barat Sumatra maupun ke Semenanjung Tanah Melayu. Selain itu, yang paling didambakan oleh Aceh ialah mengeyahkan Portugis di kawasan Selat Melaka.
Sama halnya dengan negeri Johor, Kerajaan Aceh juga berulangkali mencoba melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dan di tempat-tempat lain di kawasan Selat Melaka. Penyerangan pertama terhadap Portugis dilakukan pada tahun 1524 yang pada waktu itu sedang berada di Kerajaan Pasai. Pada tahun 1547 Melaka Portugis menjadi sasaran penyerangan pihak Aceh, namun karena negeri-negeri Melayu seperti Johor yang mengetahui penyerangan ini diam saja, tidak membantu Aceh, malah sebaliknya mereka berpihak kepada Portugis menyebabkan penyerangan ini gagal.17 Dalam hal ini Portugis berjaya memecah belah antara Johor dengan Aceh.18 Penyerangan berikutnya dilakukan pihak Aceh pada tahun 1568. Meskipun penyerangan ini dilakukan secara besar-besaran yang dibantu oleh tentara bayaran/sewaan, seperti Turki, Malabar, dan Abbessinia, tetapi Aceh juga tidak mampu mengusir Portugis dari Melaka. 19 Pada tahun 1577 lagi-lagi Aceh menyerang Portugis di Melaka, tetapi juga tidak berhasil. Demikian juga penyerangan yang dilakukan pada tahun 1615 dan penyerangan yang paling besar pada tahun 1629.20 Kesemuanya tidak berhasil mengusir Portugis dari Melaka.
Selain melakukan penyerangan terhadap Portugis, Aceh juga melakukan sejumlah ekspansi ke daerah-daerah yang berpotensi ekonomi, baik di Pantai Timur dan Pantai Barat Sumatra maupun ke negeri-begeri di Semenanjung. Maksud ekspansi ini, selain untuk kepentingan ekonomi juga karena kekhawatiran terhadap kekuatan Portugis di Melaka dan kelemahan-kelemahan Sultan-sultan Melayu dalam menghadapi pihak Portugis. Lebih-lebih karena Portugis sering mengadakan hubungan tertentu untuk mencari pengaruh atas kerajaan-kerajaan yang lemah di Semenanjung Tanah Melayu. Akibatnya, setiap Kerajaan Melayu yang berhubungan dengan Portugis dimusuhi oleh Aceh. Sementara kerajaan-kerajaan itu menginginkan agar mereka dapat bebas berhubungan dengan siapa saja yang dianggap membawa keuntungan bagi mereka. Oleh karena adanya perbedaan kepentingan, maka timbullah persaingan dan pertikaian yang terus menerus antara Kerajaan Aceh dengan kerajaan-kerajaan Melayu, khususnya dengan Kerajaan Johor di Semenanjung.
Pada tahun 1539 Kerajaan Aru di Pantai Timur Sumatra diserang Kerajaan Aceh dengan alasan karena Aru berhubungan dengan Portugis.21 Padahal Kerajaan Aru merupakan daerah taklukan Johor di Sumatra. Akibat penyerangan ini Johor dan sekutu-sekutunya mencurigai dan tidak senang terhadap Kerajaan Aceh. Hal ini kemudian berkembang menjadi permusuhan yang membawa keuntungan besar bagi Portugis sehingga ia dapat mencegah musuh-musuhnya (kerajaan-kerajaan Melayu) untuk bersatu dalam menentang mereka.22 Dengan alasan karena Johor membantu Portugis ketika Aceh menyerang Melaka pada tahun 1547, maka pada tahun 1564 Aceh menyerang Johor dan berhasil menjadikan Johor untuk beberapa tahun sebagai vazal Kerajaan Aceh.23 Penyerangan terhadap Johor juga dimaksudkan oleh Aceh sebagai persiapan untuk menyerang kembali Portugis di Melaka, supaya Johor tidak berkesempatan membantu Portugis seperti pada tahun 1547.24
Setiap kerajaan yang bersahabat dengan Portugis di Melaka atau memberi kesempatan berdagang di kerajaannya, dimusuhi oleh Kerajaan Aceh. Demikianlah Kerajaan Johor sebagai salah satu kerajaan berpengaruh di Semenanjung Tanah Melayu karena pernah mengadakan persahabatan dengan Portugis, maka selalu bermusuhan dengan Kerajaan Aceh dan sebagaimana telah disebutkan, Johor sering mendapat serangan pihak Aceh. Kadang-kadang memang terjadi suatu hubungan baik antara kedua kerajaan, meskipun kemudian terjadi permusuhan lagi. Contohnya, dapat dilihat, ketika Aceh berada di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada tahun 1613 Aceh menyerang Kota Batu Sawar dan berhasil menguasainya. Sultan Johor (Sultan Alaudin) yang telah berusia lanjut menyingkir ke Pulau Bintan. Tetapi, Sultan Muda yang disebut Raja Sabrang (Raja Abdullah) bersama keluarganya dan juga 22 orang Belanda yang mencoba membantu Johor dapat ditangkap dan dibawa ke Aceh.25
Raja Sabrang selama di Aceh, rupa-rupanya telah dapat meyakinkan Sultan Aceh bahwa dia juga merupakan orang yang memusuhi Portugis seperti juga orang-orang Aceh. Oleh karenanya, Sultan Aceh menaruh kepercayaan kepada Raja Sabrang dan kemudian dia dikawinkan dengan saudara perempuan sultan.26 Setelah beberapa lama di Aceh, pada September 1614 M Raja Sabrang bersama istrinya dikirim kembali ke Johor yang diantar sekitar 2000 orang Aceh. Pengantar sebanyak ini dimaksudkan untuk membangun kembali ibukota Kerajaan Johor (Batu Sawar) yang telah rusak akibat diserang oleh tentara Aceh sebelumnya.27 Kemudian Raja Sabrang menjadi sultan dengan gelar Sultan Hammat Shah. Setelah beberapa lama menduduki tahta kerajaan, Sultan Hammat Shah mengadakan hubungan atau suatu perjanjian kerja sama di bidang ekonomi dan politik dengan Portugis di Melaka yang diwakili oleh Fernando da Costa.28 Hal ini menimbulkan kemarahan Sultan Aceh. Pada tahun 1615 pasukan Aceh yang sedang dipersiapkan untuk menyerang Melaka, dialihkan untuk menggempur kembali Kerajaan Johor. Namun setelah tentara Aceh tiba di sana, ibukota Kerajaan Johor telah dikosongkan. Sultan Hammat Shah bersama dengan sebagian penduduknya yang telah mengetahui akan adanya serangan dari pihak Aceh telah pindah ke Lingga, sebuah pulau di selatan Singapore.29
Hubungan baik antara Kerajaan Johor dengan Kerajaan Aceh pernah pula terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani (1637-1641) dan Sultan Abdul Jalil Shah III (1623-1677), masing-masing selaku Sultan Aceh dan Sultan Johor. Dalam kitab Bustanus Salatin karya Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa pada masa Iskandar Thani, datang ke Kerajaan Aceh utusan dari Raja Johor yang dipimpin Paduka Raja bersama dengan 4 orang hulubalang. Ketika menghadap sultan, utusan ini menyerahkan surat Raja Johor dan persembahan-persembahan lainnya. Setelah membaca surat itu sultan sangat gembira, sehingga ia memberikan berbagai hadiah kepada utusan Johor itu. Selain itu, mereka juga diajak bersama sultan untuk bersama-sama pergi negeri Pasai.30 Ketika telah kembali dari Pasai, Paduka Raja bersama dengan 4 orang hulubalang memohon diri kepada sultan untuk kembali ke Johor. Bersama dengan kembalinya utusan Raja Johor, Sultan Iskandar Thani menitipkan hadiah-hadiah untuk dipersembahkan kepada Raja Johor. Hadiah-hadiah ini antara lain berupa cincin-cincin intan, kancing dan anting-anting intan serta sejumlah pakaian keemasan beserta beberapa ekor kuda dan keledai.31

III
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa sumber konflik antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Johor disebabkan karena kehadiran pihak Portugis yang merusak kemapanan situasi di kawasan Selat Melaka. Ekspansi-ekspansi yang dilakukan oleh Kerajaan Aceh atas kerajaan-kerajaan Melayu lebih disebabkan karena kekhawatiran Aceh terhadap Portugis yang diperkirakan akan menguasai dan mempengaruhi kerajaan-kerajaan itu sehingga mereka akan berpihak kepada Portugis. kerajaan-kerajaan Melayu sendiri, seperti Johor sebenarnya juga tidak menyenangi kehadiran Portugis di kawasan Selat Melaka. Mereka juga bermusuhan dan berperang untuk mengusir Portugis di wilayah itu. Tetapi karena sikap Aceh yang tidak dapat dipahami lebih-lebih dalam melakukan ekspansi yang dinilai sangat arogan, menyebabkan kerajaa-kerajaan Melayu (Johor) tidak senang terhadap Aceh. Itulah sebabnya pula maka mereka kadang-kadang mau bersahabat/membantu Portugis ketika diserang oleh pihak Aceh. Jadi, dalam hal ini, adanya perbedaan persepsi dan kepentingan sebagai akibat kehadiran Portugis, menimbulkan konflik antara Aceh dengan kerajaan-kerajaan Melayu, khususnya Johor. Sekiranya kerajaan-kerajaan Melayu mau bersatu tentu akan mudah bagi mereka menghadapi musuhnya, Portugis. Dalam konflik yang berkepanjangan (abad ke XVI sampai dengan abad ke XVII), antara Aceh dengan Johor, kita dapat mengambil pelajaran daripadanya, bahwa persatuan dan kesatuan serta tenggang rasa di antara sesama orang Islam amat diperlukan.

Johor, Mei 2000
Catatan Akhir
1 Karya-karya yang membicarakan hubungan antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Johor dapat dilihat misalnya, H.K.J. Cowan, De Hikajat Malem Dagang. (‘s-Gravenhage: Het Koninklijk Instituut voor de Taal-Land; en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie, 1937). N.J. Ryan, Sejarah Semenanjung Tanah Melayu. (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1966). P.A. Tiele, “De Europeers in de Malaische Archipel”, BKI 29 (1881), 35 (1886), 35 (1887) dan 37 (1888). Brian Harrison, Asia Tenggara Satu Sejarah Ringkas. Terjemahan (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966). Teuku Iskandar, “De Hikajat Atjeh”, VKI 26, (1958). Moh. Said. Atjeh Sepandjang Abad. (Medan: Terbitan Pengarang Sendiri, 1961).

2 Menurut Othman Mohd Yatim dan Mohd. Zamberi A. Malek, konflik yang tercetus dalam sejarah negeri Melayu semenanjung boleh disimpulkan berpunca pada 6 faktor. Salah satu di antaranya peperangan terbuka antara Johor-Riau dengan Aceh dan Jambi sepanjang abad ke-17 Masehi. Lihat Othman Mohd. Yatim dan Mohd. Zamberi A. Malek, Meriam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu Nusantara (Kuala Lumpur: Jabatan Muzium dan Antikuiti, 1994), hal. 15.

3 Ibid.

4 Brian Harrison, Asia Tenggara Satu Sejarah Ringkas. Terjemahan. (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966). hal. 96.

5 Lihat misalnya, D.H. Burger, Terj. Prajudi Atmosudirdjo. Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Vol. I. (Djakarta: P.N. Pradnya Paramita, 1960), hal. 15.

6 Ibid.

7 Brian Harrison, op.cit., hal. 59.

8 P.A. Tiele, “De Europeers in de Maleische Archipel”, BKI 36 (1877), hal. 13.

9 Bernard H.M. Vlekke, Nusantara Sejarah Indonesia. (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1967), hal. 90.

10 Maksud kedatangan orang-orang Portugis ke Nusantara yang lebih jelas, lihat misalnya dalam Sartono Kartodirdjo, “Religious and Economic Aspect of Portuguese-Indonesia Relations”, Separata de STUDIA. Revista Quadrimestral No. 29. (Lisboa: April, 1970).

11 D.H. Burger, op.cit., hal. 50.

12 Lihat Asnarulkhadi Abu Samah, Jayum A. Jawan (ed.), Kenegerian Malaysia, (Serdang: Universiti Putra Malaysia, 1997), hal. 26.

13 N.J. Ryan, Sejarah Semenanjung Tanah Melayu. (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1966). hal. 49. Lihat juga Othman Mohd. Yatim dan Mohd. Zamberi A. Malek, op.cit., hal. 50.

14N.J. Ryan. loc.cit.

15 Othman Mohd. Yatim dan Mohd. Zamberi A. Malek, loc.cit.

16 N.J. Ryan, loc.cit.

17 N.J. Ryan, op.cit., hal. 51.

18R.O. Winstedt, A History of Malaya. (London: Luzak & Company, 1935), hal. 78

19 Lihat Misalnya, R.A. Hoesein Djajadiningrat, “Critisch Overzicht van de in Maleische Werken Vervatte Gegevens Over de Geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh”, BKI 65 (1911), hal. 153.

20 Mengenai penyerangan tahun 1629, lihat dalam T. Iskandar, “De Hikajat Atjeh”, VKI XXVI (‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1958), hal 47-48 dan P.J. Veth, Atchin en Zijne Betrekkingen tot Nederland. (Leiden: Geralth Kolff, 1887), hal. 74.

21Tengku Luckman Sinar, Sari Sedjarah Serdang. (Medan: Tanpa Penerbit dan Tahun), hal. 22.

22.J. Ryan. loc.cit.

23 Ibid.

24 D.G.E. Hall, A History of Sout East Asia. (London: Macmillan & Co. Ltd, 1960), hal. 284. Lihat Juga J.A. Macgregor, “A Portuguese Sea Fight Near Singapore”, JMBRAS, Vol. XXIX, Part 3 (1957), hal. 6.

25J.A. Tiele, op.cit., hal. 303.

26 R.A. Hoesein Djajadinigrat, op.cit., hal. 180.

27 P.A. Tiele, loc.cit.

28 Ibid., hal. 307

29 R.A. Hoesein Djajadiningrat, loc.cit. Lihat juga N.J. Ryan, op.cit., hal. 55.

30 Nuruddin ar-Raniri, Bustanus Salatin, Bab II Fasal 13. Disusun oleh T. Iskandar (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966), hal. 53.

31 Ibid., hal. 57.

Tidak ada komentar: